Struktur Kepemilikan dan kebijakan Deviden
Banyak fakta empiris yang dapat dijelaskan oleh pendekatan bahwa deviden berfungsi sebagai penyampaian informasi, namun masih ada fakta empiri lain yang tidak konsisten dengan pendekatan ini. Pertama, deviden sebagai informasi tidak dapat menjelaskan mengapa pembayaran deviden di Amerika,Kanada dan Inggris lebih tinggi dibanding dengan negara maju lain. Lebih besarnya kesempatan investasi di negara-negara Asia tertentu dapat menjelaskan perbedaan tersebut, namun kesempetan di negara Eropa dan Jepang tidak lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika, Kanada dan Inggris.
Fakta lain menyebutkan di Amerika bahwa perusahaan perseroan tertutup dan perusahaan yang baru saja go public jarang membayar deviden, sedangkan perusahaan yang sudah besar dan mapan membayarkan deviden dalam jumlah besar. Kesimpulan bahwa pembayaran deviden banyak terkait dengan struktur kepilikan perusahaan.
Struktur kepemilikan mempengaruhi besar pembayaran deviden dari dua sisi. Pertama ketika kepemilikan perusahaan terkonsentrasi asymmetric infrormation antara orang dalam dan luar perusahaan relatif kecil sehingga manajer todal perlu menggunakan deviden untuk menyampaikan informasi. Hal ini terlihat dari kecil dan jarangnya deviden pada perusahaan keluarga dimana pemilik utama merupakan manajer dari perusahaan tersebut, serta pada perusahaan besar di kontrol oleh bank atau kelompok industri. Berdasarkan logika tersebut dapat di pahami mengapa perusahaan di Amerika, Kanada dan Inggris relatif lebih besar deviden nya karena pada negara tersebut struktur kepemilikan perusahaan cenderung menyebar sedangkan perusahaan di negara Eropa dan Jepang cenderung kecil deviden nya karena struktur kepemilikannya cenderung terkonsentrasi dan lebih banyak pendanaan dari bank.
Argumentasi lain tentang adanya pengaruh struktur kepemilikan terhadap kebijakan deviden dapat dilihat dari institusi kepemilikan lembaga keuangan bank seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan reksa dana. Menurut Black (1992), institusi keuangan memiliki prefensi yang kadang berbeda dengan keinginan investor umum. Ada empat alasana mengapa muncul prefensi tersebut :
Institusi keuangan sangat rendah tarif pajaknya sehingga mestinya tidak lebih menyukai capital gain dibandingkan engan deviden
Horizon investasi mereka secara umum berjangka panjang sehingga mestinya lebih menyukai perusahaan yang menginvestasikan kembali labanya daripada perusahaan yang membayarkan sebagian labanya untuk deviden
Masalah investasi yang mereka hadapi bukannya tentang likuiditas melainkan bagaimana mencari perusahaan yang profitabilitasnya bagus untuk menanamkan dana yang mereka peroleh dari premi atau pungutan dana pensiun
Investor institusional sering kali memperdagangkan saham dalam jumlah bsar sehingga biaya transaksi per sahamnya relatif kecil bahkan mendekati nol.
Agency Cost/Controling Model
Model agency cost merupakan model yang saat ini menjadi mainstream untuk menjelaskan fakta pembayaran deviden. Pembayaran deviden dilakukan karena manajer ingin memaksimumkan nilai perusahaan dengan cara mengurangi biaya yang muncul akibat konflik agensi antara manajer dengan pemegang saham karena adanya pemisahan antara kepemilikan dan kontrol di perusahaan-perusahaan besar. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap pembayaran deviden adalah tingginya biaya transaksi berkaitan dengan pembelian , penjualan, dan penerbitan sekuritas, perlakuan pajak atas pendapatan capital gain dan pendapatan deviden tingkat kepemilikan institusi keuangan dalam struktur kepemilikan perusahaan, peraturan dan tradisi dalam corporate govermance, banyaknya informasi yang wajib di disclose dan relatif pentingnya pasar modal sebagai sumber dana perusahaan dibandingkan dengan perbankan.
Signaling Model Model signaling dibangun sebagai upaya memaksimumkan nilai perusahaan lewat pembayaran deviden dengan asumsi ada asymmetri information antara manajer dan pemegang saham. Perusahaan yang benar-benar bagus memiliki insentif untuk menyampaikan informasi yang memberatkan tetapi tetap dapat dipenuhi oleh perusahaan tersebut namun informasi ini tidak dapat mungkin ditiru oleh perusahaan yang kinerjanya buruk. Deviden merupakan sesuatu yang memberatkan bagi perusahaan yang membayarnya karena perusahaan harus selalu menyediakan sejumlah kas dalam jumlahyang relatif permanen untuk membayar deviden di masa yang akan datang. Tindakan perusahaan memberikan sinyal dengan pembayaran deviden sesungguhnya tindakan pengamburan (burning money), namun perusahaan yang bagus prospeknya akan dapat menutup biaya sinyal ini di kemudian hari karena dapat menjual sham baru dengan harga yang lebih tinggi seangkan perusahaan yang buruk prospeknya tidak dapat melakukan hal tersebut. Banyak model yang dikembangkan dengan sinyal deviden ini. Bhattacharya (1979) menekankan pada penggunaan cash flow operasi. Miller dan Rock (1985) menekankan pada hilangnyakesempatan investasi. John dan williams (1985) menekankan pada penghambuan dari sisi investor karena harus membayar pajak dalam jumlah banyak. Model tersebut memiliki ide dasar yang sama bahwa deviden merupakan sinyal yang membebani nilai perusahaan yang berada dalam pasar modal yang bercirikan asymmetric infromation antara manajer dan pemegang saham, namun mereka tetap bertahan hidup karena ini merupakan cara yang paling murah untuk membangunkan kredibilitas di mata investor yang kurang informasi. Model signaling konsisten dengan observasi bahwa deviden payout berhubungan dengan profitabilitas dan perusahaan yang memiliki free cash flows besar membayarkan dalam jumlah besar. Model signaling memliki beberapa kelemahan. Dia tidak merupakan satu-satunya model yang memprediksi bahwa harga saham meningkat ketika ada inisiasi dan kenaikan deviden dan harga saham turun ketika ada penurunan harga saham. Model signaling tidak banyak menjelaskan fenomena bervariasinya deviden pada berbagai industri, negara, dan struktur kepemilikan perusahan. Model ini juga tidak dapat menjawab mengapa pembayaran deviden relatif konstan ketika teknologi informasi sudah mengalami banyak kemajuan dan pasar modal sudah semakin efisien.
Share Repurchase
Perusahaan memiliki dua pilihan untuk mendistribusikan kas kepada pemegang saham yaitu dengan membayar deviden atau dengan membeli kembali saham yang beredar (share repurchase). Grullon dan michaely (2002) mencatat adanya peningkatan aktivitas repurchase ini dalam 20 tahun terakhir ini. Mereka mencatat bahwa pada tahun 1980 dana untuk share reprchase dibandingkan dengan total laba perusahaan hanya 4,8 persen namun pada tahun 2000 meningkat menjadi 41,8 persen.
Dilihat dari sisi pajak sangat masuk akal perusahaan mengganti deviden dengan share repurchase karena pajak atas share repurchase lebih rendah dan dapat ditunda pembayarannya. Manajer membayar deviden untuk menyampaikan sinyal sementara share repurchase tidak dapat digunakan sebagai sinyal. Dengan demikian, menurut teori signaling deviden dan share repurchase tidak dapat saling dipertukarkan.
Banyak fakta empiris yang dapat dijelaskan oleh pendekatan bahwa deviden berfungsi sebagai penyampaian informasi, namun masih ada fakta empiri lain yang tidak konsisten dengan pendekatan ini. Pertama, deviden sebagai informasi tidak dapat menjelaskan mengapa pembayaran deviden di Amerika,Kanada dan Inggris lebih tinggi dibanding dengan negara maju lain. Lebih besarnya kesempatan investasi di negara-negara Asia tertentu dapat menjelaskan perbedaan tersebut, namun kesempetan di negara Eropa dan Jepang tidak lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika, Kanada dan Inggris.
Fakta lain menyebutkan di Amerika bahwa perusahaan perseroan tertutup dan perusahaan yang baru saja go public jarang membayar deviden, sedangkan perusahaan yang sudah besar dan mapan membayarkan deviden dalam jumlah besar. Kesimpulan bahwa pembayaran deviden banyak terkait dengan struktur kepilikan perusahaan.
Struktur kepemilikan mempengaruhi besar pembayaran deviden dari dua sisi. Pertama ketika kepemilikan perusahaan terkonsentrasi asymmetric infrormation antara orang dalam dan luar perusahaan relatif kecil sehingga manajer todal perlu menggunakan deviden untuk menyampaikan informasi. Hal ini terlihat dari kecil dan jarangnya deviden pada perusahaan keluarga dimana pemilik utama merupakan manajer dari perusahaan tersebut, serta pada perusahaan besar di kontrol oleh bank atau kelompok industri. Berdasarkan logika tersebut dapat di pahami mengapa perusahaan di Amerika, Kanada dan Inggris relatif lebih besar deviden nya karena pada negara tersebut struktur kepemilikan perusahaan cenderung menyebar sedangkan perusahaan di negara Eropa dan Jepang cenderung kecil deviden nya karena struktur kepemilikannya cenderung terkonsentrasi dan lebih banyak pendanaan dari bank.
Argumentasi lain tentang adanya pengaruh struktur kepemilikan terhadap kebijakan deviden dapat dilihat dari institusi kepemilikan lembaga keuangan bank seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan reksa dana. Menurut Black (1992), institusi keuangan memiliki prefensi yang kadang berbeda dengan keinginan investor umum. Ada empat alasana mengapa muncul prefensi tersebut :
Institusi keuangan sangat rendah tarif pajaknya sehingga mestinya tidak lebih menyukai capital gain dibandingkan engan deviden
Horizon investasi mereka secara umum berjangka panjang sehingga mestinya lebih menyukai perusahaan yang menginvestasikan kembali labanya daripada perusahaan yang membayarkan sebagian labanya untuk deviden
Masalah investasi yang mereka hadapi bukannya tentang likuiditas melainkan bagaimana mencari perusahaan yang profitabilitasnya bagus untuk menanamkan dana yang mereka peroleh dari premi atau pungutan dana pensiun
Investor institusional sering kali memperdagangkan saham dalam jumlah bsar sehingga biaya transaksi per sahamnya relatif kecil bahkan mendekati nol.
Agency Cost/Controling Model
Model agency cost merupakan model yang saat ini menjadi mainstream untuk menjelaskan fakta pembayaran deviden. Pembayaran deviden dilakukan karena manajer ingin memaksimumkan nilai perusahaan dengan cara mengurangi biaya yang muncul akibat konflik agensi antara manajer dengan pemegang saham karena adanya pemisahan antara kepemilikan dan kontrol di perusahaan-perusahaan besar. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap pembayaran deviden adalah tingginya biaya transaksi berkaitan dengan pembelian , penjualan, dan penerbitan sekuritas, perlakuan pajak atas pendapatan capital gain dan pendapatan deviden tingkat kepemilikan institusi keuangan dalam struktur kepemilikan perusahaan, peraturan dan tradisi dalam corporate govermance, banyaknya informasi yang wajib di disclose dan relatif pentingnya pasar modal sebagai sumber dana perusahaan dibandingkan dengan perbankan.
Signaling Model Model signaling dibangun sebagai upaya memaksimumkan nilai perusahaan lewat pembayaran deviden dengan asumsi ada asymmetri information antara manajer dan pemegang saham. Perusahaan yang benar-benar bagus memiliki insentif untuk menyampaikan informasi yang memberatkan tetapi tetap dapat dipenuhi oleh perusahaan tersebut namun informasi ini tidak dapat mungkin ditiru oleh perusahaan yang kinerjanya buruk. Deviden merupakan sesuatu yang memberatkan bagi perusahaan yang membayarnya karena perusahaan harus selalu menyediakan sejumlah kas dalam jumlahyang relatif permanen untuk membayar deviden di masa yang akan datang. Tindakan perusahaan memberikan sinyal dengan pembayaran deviden sesungguhnya tindakan pengamburan (burning money), namun perusahaan yang bagus prospeknya akan dapat menutup biaya sinyal ini di kemudian hari karena dapat menjual sham baru dengan harga yang lebih tinggi seangkan perusahaan yang buruk prospeknya tidak dapat melakukan hal tersebut. Banyak model yang dikembangkan dengan sinyal deviden ini. Bhattacharya (1979) menekankan pada penggunaan cash flow operasi. Miller dan Rock (1985) menekankan pada hilangnyakesempatan investasi. John dan williams (1985) menekankan pada penghambuan dari sisi investor karena harus membayar pajak dalam jumlah banyak. Model tersebut memiliki ide dasar yang sama bahwa deviden merupakan sinyal yang membebani nilai perusahaan yang berada dalam pasar modal yang bercirikan asymmetric infromation antara manajer dan pemegang saham, namun mereka tetap bertahan hidup karena ini merupakan cara yang paling murah untuk membangunkan kredibilitas di mata investor yang kurang informasi. Model signaling konsisten dengan observasi bahwa deviden payout berhubungan dengan profitabilitas dan perusahaan yang memiliki free cash flows besar membayarkan dalam jumlah besar. Model signaling memliki beberapa kelemahan. Dia tidak merupakan satu-satunya model yang memprediksi bahwa harga saham meningkat ketika ada inisiasi dan kenaikan deviden dan harga saham turun ketika ada penurunan harga saham. Model signaling tidak banyak menjelaskan fenomena bervariasinya deviden pada berbagai industri, negara, dan struktur kepemilikan perusahan. Model ini juga tidak dapat menjawab mengapa pembayaran deviden relatif konstan ketika teknologi informasi sudah mengalami banyak kemajuan dan pasar modal sudah semakin efisien.
Share Repurchase
Perusahaan memiliki dua pilihan untuk mendistribusikan kas kepada pemegang saham yaitu dengan membayar deviden atau dengan membeli kembali saham yang beredar (share repurchase). Grullon dan michaely (2002) mencatat adanya peningkatan aktivitas repurchase ini dalam 20 tahun terakhir ini. Mereka mencatat bahwa pada tahun 1980 dana untuk share reprchase dibandingkan dengan total laba perusahaan hanya 4,8 persen namun pada tahun 2000 meningkat menjadi 41,8 persen.
Dilihat dari sisi pajak sangat masuk akal perusahaan mengganti deviden dengan share repurchase karena pajak atas share repurchase lebih rendah dan dapat ditunda pembayarannya. Manajer membayar deviden untuk menyampaikan sinyal sementara share repurchase tidak dapat digunakan sebagai sinyal. Dengan demikian, menurut teori signaling deviden dan share repurchase tidak dapat saling dipertukarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar